Penangkaran Buaya dan Istana nan Berkemilau

Hari ketiga (12/9) di kota Medan yang untungnya kali ini ditemani oleh kawan ku asli kelahiran Pematangsiantar yang kebetulan sedang tidak ada tugas dan memutuskan ke kota Medan sekaligus mengunjungi anak istrinya. Yup namanya mas Isa Nasution, sudah sejak kemarinnya aku menjelaskan keinginanku hari ini akan mengunjungi mana saja. Kebetulan juga waktu ku terbatas karena setengah hari berikutnya aku harus ikut rombongan.

Continue reading

Menara Tahun 1906 di Jalan S.M. Raja

Ceritanya langsung hari kedua (11/9) di Medan aja ya, dimana aku memutuskan berkeliling kota tersebut sendiri dengan panduan maps by mobile phone dan bertanya kepada pegawai penginapan selama saya tinggal di Medan. Tidak jauh beda seperti kemarin ekspresi pegawai penginapan tersebut tampak heran dan bingung saat saya menanyakan jalur transportasi umum aka mikrolet untuk menuju Menara Air Tirtanadi. Intinya dari jalan Gatot Subroto (Gatsu) saya harus naik angkot nomer 64 sampai jalan Singsingamaraja (S.M. Raja) karena Menara Air Tirtanadi berada disekitar daerah itu. Sempat kebablasan sih, tapi banyak hal yang saya temui malah yaitu demo mahasiswa UISU (Universitas Islam Sumatera Utara), lokasi Masjid Raya Al-Mashun dan Istana Maimoon dan kesempatan saya naik bentor (becak montor) gila.

Continue reading

Gula Aren Kayupuring

Ini hanya obrolan ku bersama seseorang yang bekerja menjadi penyuluh kantor dinas di Pekalongan. Aku lupa namanya namun dari awal bertemu dia semacam sok kenal dan cerewet. Tak apalah toh menjadi teman ngobrol selama waktu senggang saat itu. Dia ditugaskan menjadi penyuluh pengembangan produk lokal kebetulan ditugaskan di desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono. Produk yang sedang diusahakan adalah gula aren, yang menurut dinas yang menaunginya gula aren desa Kayupuring berkualitas baik bahkan harganya bisa lebih tinggi dibanding yang lain. Bahkan pemasarannya dulu bisa mencapai Jakarta.

Continue reading

Tong Edan Pasar Malam

Boleh lah sedikit cerita kalo ini kunjungan ke 3 kalinya aku pergi ke pasar malam. Terserah kalo pada mau bilang aku masa kecil kurang bahagia, tapi emang 😐
Ada alasannya kok, kalo tiap liat pasar malam aku pengennya naik “bianglala” tapi ibuku selalu melarang alasannya kotor, banyak kuman karena besi-besi berkarat hingga nanti aku muntah karena wahananya berputar-putar. Ciyan, iya 😦

Tauwa Hangat

Waaaaa…..waaaaaa…..waaaaaaa……

Itu yang selalu diteriakkan penjual tauwa ketika lewat di depan rumah ku, si penjual menaiki sepeda  ontel yang sudah dimodifikasi dengan gerobak kecil dibagian belakangnya. Tauwa menjadi pilihan menu sarapan ketika aku pulang kampung ke Sidoarjo-Jawa Timur, hangat dan cukup mengenyangkan. Tauwa ini termasuk jajanan berkuah yang terdiri dari puding tahu dan kacang mateng yang disiram kuah wedang jahe. Rasanya manis dan sedikit pedas jahe. Kalau dilihat sih tauwa itu termasuk jajanan tempo dulu entah dari asal muasal makanan ini, namun kalau aku dengar dari beberapa orang sih merupakan jajanan Tionghoa. Salah satu buku yang pernah aku baca yang berjudul “Monggo Dipun Badhog” karangan Dukut Imam Widodo, orang Surabaya sering menyebutnya puding tahu untuk menyaingi puding Belanda yang terbuat dari campuran susu.

tauwa