Gajah Sumatera di Rumahnya (Habitat) Way Kambas

 

Mendengar “Lampung” langsung saja destinasi utama saya saat berkunjung adalah Taman Nasional Way Kambas (TNWK) ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 670/Kpts-II/1999 tanggal 26 Agustus 1999 dengan luasan ± 125.631, 31 ha. Sampai saat ini TNWK dikenal masih menjaga jenis satwa The Big Five mammals yaitu tapir (Tapirus indicus), gajah Sumatera (Elephant maximus sumatranus), badak Sumatera (Diserohinus sumatranus), harimau Sumatera (Panthera tigris) dan beruang madu (Helarctos malayanus) (Sumber: www.waykambas.org). Undang-Undang Republik Indonesia No. 05 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem menjelaskan taman nasional adalah kawasan pelesatarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Nah akan berbeda dengan kawasan seperti cagar alam maupun suaka margasatwa bisa cek detailnya di UU No. 05 Tahun 1990 yess.

IMG_2094

Beberapa gajah Sumatera yang dilatih sedang merumput di savana PLG

TNWK tepatnya Pusat Pelatihan Gajah (PLG)lokasi yang sesuai bila ingin bertemu gajah langsung di rumahnya (habitat), melihat dari dekat hingga menyentuh kulitnya yang tebal kasar. Masuk gerbang  terdapat loket masuk kawasan TNWK, pengunjung akan dikenakan tiket sebesar Rp 7000,00. Sekitar gerbang atau loket pengunjung akan diserbu beberapa pedagang ibu-ibu yang menjual pisang atau potongan tebu untuk diberikan kepada gajah di area PLG. PLG menyediakan atraksi gajah dimana beberapa gajah menunjukkan kemampuan menghibur pengunjung bergoyang, menendang bola, mengangkat mahot (pelatih gajah), dan berhitung. Untuk menikmati pertunjukan tersebut pengunjung akan ditarik tiket sebesar Rp 20.000,00. Setelah melihat pertunjukan gajah pengunjung dapat menikmati menunggangi gajah dengan jarak pendek atau jauh. Untuk jarak jauh pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp 150.000,00 menunggangi gajah selama 30 menit berkeliling area sekitar PLG melewati savanna. Bagi saya biaya yang saya keluarkan selama saya di TNWK tidak seberapa dari kepuasan saya menikmati alam dan isinya. Mengingat Prof. Djoko saat saya kuliah dulu, biaya yang kita keluarkan saat berwisata ke Taman Nasional sangatlah ringan bila dibandingkan dengan harga tiap peran komponen biotic atau abiotik di hutan. Andai saja kita bisa dirupiahkan oksigen yang dihasilkan untuk satu jenis pohon, peran satu jenis mamalia herbivore dalam menyebarkan biji tanaman melalui kotoran sehingga tumbuhan di hutan alam dapat tersebar luas dan tingginya keragaman jenis, kemampuan tiap jenis tumbuhan dalam menyimpan cadangan air tanah, dan sebagainya. Bila semua diperhitungkan maka bisa jadi harga tiket masuk pengunjung ke TN melambung tinggi.

IMG_2083

Kandang gajah yang dilatih, PLG Taman NAsional Way Kambas

Gajah yang dilatih di PLG merupakan gajah yang berasal dari alam yang ditangkap dan dilatih, kurang lebih saat ini berjumlah 46 gajah yang ada di PLG. Saya berkeliling disekitar kawasan PLG menunggangi gajah jantan berumur 28 tahun bernama BERI dengan mahot yang lupa namanya. Menurut mahot yang bersama saya saat itu kemampuan dilatih tiap gajah berbeda-beda, pertama kali gajah dilatih kemampuan untuk mengangkat kaki rata-rata lamanya dua minggu selanjutnya dilatih sesuai kebutuhan dalam beratraksi. Menurut mahot yang mendampingi saya, fungsinya melatih gajah adalah untuk membantu proses memindahkan log kayu dari kawasan hutan, kini lebih pada menunjang kegiatan patrol, wisata dan pendidikan tentang gajah Sumatera di Lampung. Dulu saya pernah menulis ulasan juga mengenai gajah (https://nirmalaryt.wordpress.com/2013/02/11/gajah-guci-sekeluarga/) kini dapat menulis langsung cerita tentang gajah Sumatera di rumahnya (habitat).

IMG_2092

Bendungan dimana gajah dimandikan di PLG

Gajah memiliki kemampuan pendengaran yang baik, sehingga gajah yang dilatih akan mengenal dan patuh hanya pada mahotnya saja.  Umur maksimal gajah adalah 70 tahun, sifat hidup berkelompok, dengan pola kawin polygami dan tidak memiliki musim kawin tetap. Gajah sebenarnya adalah satwa yang aktif di malam hari saat matahari akan terbenam hingga matahari akan terbit, di habitat alaminya pada siang mereka gunakan untuk tidur di bawah tajuk pohon tegakan hutan. DI PLG saya temukan gajah yang dilatih sedang merumput saat siang hari, mereka ada yang berkelompok dan menyendiri untuk gajah yang sedang tidak dipertunjukkan.

IMG_2101

Erin sedang merumput di savana PLG

Di lembah padang savanna saya bertemu gajah yang sempat mencuri perhatian bagi TNWK yaitu ERIN, gajah yang belalainya pendek akibat terkena jerat pemburu. Oleh mahot dijelaskan bahwa ERIN kesulitan untuk makan, fungsi belalai untuk memperoleh rumput tidak lagi berfungsi karena ujung bagian belalai layaknya jari tidak ada. Mulut kini menjadi alat bantu untuk memperoleh makan, saat saya jumpai ERIN sedang makan menyendiri di kubangan air lembah savanna ditemani oleh beberapa burung kuntul putih. Mahot yang melatih ERIN tugasnya juga bertambah selain melatih juga memberi makanan tambahan. Gajah di PLG tidak diletakkan di kandang namun dilepas sekitar savanna yang terbuka minim tempat berlindung dari tajuk pohon. Agar tidak jauh menjelajah kaki gajah dewasa dirantai yang diikat dengan patok beton atau batang pohon sekitarnya.

Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. sumatranus Temminck, 1847) saat ini berada dalam status Critically Endangered oleh IUCN (http://www.iucnredlist.org/details/199856/0). Di Indonesia masuk dalam satwa yang dilindungi diatur dalam peraturan pemerintah, yaitu PP 7/1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Ancaman terbesar bagi satwa ini adalah makin berkurangnya luasan habitat dan perburuan liar. Dalam sebuah pertemuan Internasional di Malang bertemakan Konservasi Sumberdaya Global (2018), bahwasannya ancaman terbesar bagi satwa liar adalah rusaknya habitat asli mereka berupa hutan alam yang telah dikonversi menjadi penggunaan lahan lain. Rusaknya hutan alam maka semua komponen biotik dan abiotik yang ada di dalamnya akan musnah, dimana tiap komponen pasti memiliki perannya dan fungsinya masing-masing dalam ekosistem hutan tersebut. Dengan rusaknya habitat asli mereka maka tidak sedikit dana yang harus dikeluarkan dan tidak sebentar waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan seperti semula. Jadi, apakah anak cucu kita kelak akan mengenal gajah Sumatera hanya dari buku cerita bergambar?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s