Aksesnya Terlalu Terbuka

Kalau selama ini aku hanya melihat  kamar mandi jongkok yang umumnya ditemukan di pinggiran sungai atau empang (kolam kecil) dan sesekali dalam hati mengomentari dijaman yang sudah maju ini masih ada saja yang membangun dan menggunakannya. Tapi memang kalau jodoh itu nggak bakal kemana, yang pernah aku komentari ternyata harus aku alami. Hampir seluruh rumah di desa tersebut tidak memiliki kamar mandi dalam, semua berada diluar dan diatas empang heuheuheu. Selama empat hari aku berada di Desa Timbang I, Dusun Timbang I, Kecamatan Majenang mandi cukup sehari sekali, kenapa? Karena ya sulit bagi ku mandi dengan tubuh berbalut kain (sarung) kalau tidak ingin terlihat telanjang oleh siapapun. Dinding kamar mandi yang tidak seluruhnya tertutup tinggi mengharuskan posisi jongkok untuk mandi, kaki pegal jelas terasa karena aku selalu  mandi setelah perjalanan menaiki perbukitan. Kalau biasanya mandi itu merupakan bentuk relaksasi setelah beraktifitas, tapi mandi kali ini harus semacam memasang strategi kalau mau aman.

km-YEY

Kondisi kamar mandi

Lokasi desa tersebut sangatlah jauh dari pusat keramaian (di kecamatan), walaupun bangunan rumah bisa dikatakan bagus-bagus dan bersih namun kamar mandi berada diluar rumah berada dekat empang. Kalau ditelaah lebih dalam mengenai bentuk pemukiman yang demikian, jauhnya sumber keramaian berarti jauh pula untuk dapat memperoleh beberapa kebutuhan sehari-hari. Tidak mungkin mereka setiap hari belanja jauh-jauh hanya beli ikan, sayur, gula dan lain-lain. Menuju kecamatan saja sudah mengeluarkan biaya bahan bakar kendaraan, sehingga mereka memanfaat hasil hutan, kebun dan perikanaan untuk kebutuhan sehari-hari. Dari hutan mereka dapat memperoleh jamur dan herba untuk konsumsi, begitu pula kebun dekat rumah ditanam singkong, kacang dan kapulaga. Gula pasir saja mereka tidak pernah beli, sehingga sebagai gantinya untuk menyeduh teh atau kopi agar manis dengan gula aren. Hampir setiap KK memiliki kebun aren dan hasilnya mereka jual dan sebagian untuk konsumsi sendiri. Untuk memperoleh protein warga desa dapat mengkonsumsi hewan ternak sendiri seperti ayam kampung, ohya warga sana tidak suka ayam pedaging mereka lebih suka ayam kampung. Selain ayam mereka juga bisa mengkonsumsi ikan yang dipelihara diempang masing-masing. Tidak perlu saya jelaskan hubungan yang terjadi antara kamar mandi open akses, empang dan ikan yang dikonsumsi, yang jelas aku masih baik-baik saja selama empat hari sarapan dengan lauk ikan hasil pancingan tuan rumah. Bisa dibilang siklus hara (wew) yang terjadi di situ adalah bentuk siklus tertutup :p

Advertisements

2 thoughts on “Aksesnya Terlalu Terbuka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s