Dari Biji Sampai Bisa Diseduh Selagi Panas

Pada akhir bulan Januari 2013 aku berkesempatan ikut langsung mengolah biji kopi di dapur salah satu warga Desa Kayupuring, Dusun Sokokembang, Kecamatan Pekalongan, yaitu Ibu Napah. Biji kopi ini berasal dari jenis pohon kopi Robusta yang memiliki ciri biji lebih bulat dan pohonya lebih tinggi daripada pohon kopi Arabika. Prosesnya lama, jujur ini pertama kalinya aku liat dan ikut dalam pengolahan biji kopi. Pemanenan biji kopi biasanya setahun sekali yaitu sekitar bulan Agustus. Bagi warga Desa Kayupuring, kopi yang masih berwujud biji (kering) ini akan dijual bila lagi butuh uang saja. Bisa dikatakan warga tidak benar-benar produksi secara massal, harga satu kilo biji kopi dihargai sekitar Rp15.000,00. Ohya, kalau mereka sedang tidak ingin menjual biji kopinya biasanya biji kopi tersebut disimpan atau dikonsumsi sendiri . 

yey

Biji yang baru dipetik dari pohonnya terlebih dahulu dikeringkan, dalam setahun bisa mencapai dua ton untuk luasan tiga hektar. Pohon kopi warga Desa Kayupuring ini tumbuh berada pada tegakan hutan alami, tumbuhnya pun juga secara alami. Setelah biji kopi tersebut kering maka ditumbuk agar terpisah antara kulit dan biji – diayak – disangrai kurang lebih satu jam menggunakan kompor kayu, dapat disangrai dengan kapulaga dan kelapa – blender/ditumbuk menjadi bubuk kopi siap saji 😀

last

Advertisements

2 thoughts on “Dari Biji Sampai Bisa Diseduh Selagi Panas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s